Dari pengamatan saya banyak mahasiswa dan saya sendiri merasa sering ngantuk ketika sedang kuliah. Efek ngantuk ini dapat menurunkan konsentrasi belajar sehingga materi yang diberikan oleh dosen sering menjadi ga masuk akal atau ga masuk akal pikiran kita karena ngantuk.

Sekian literatur yang saya baca di artikel kebanyakan rasa ngantuk disebabkan oleh keseringan begadang. Sebab lain yang dapat menyebabkan ngantuk saat beraktivitas penting adalah sebagai berikut :

ngantuk setelah makan

makan yang kebanyakan akan menyebabkan rasa ngatuk. Rasa ngantuk ini disebabkan enzim yang difungsikan sebagai katalisator zat makanan untuk mempercepat berubahnya zat makanan menjadi energi perbandingannya kurang dengan jumlah makanan yang masuk ke perrut. Keadaan ini mengakibatkan enzim mengalami kelelahan Karena terlalu keras bekerja, tubuh merasa lelah dan seharusnya saat lelah makanan yang dimakan bisa memberikan energi. Keadaan seperti ini sering di alami oleh orang yang kekurangan enzim enzim pencernaan yang disekresikan oleh kelenjar ludah, perut, pankreas, sel-sel endokrin dan juga usus kecil.

tidur lewat jam 24.00

Jangan biasakan tidur lewat jam 24.00…karena pada jam-jam seperti ini organ dalam tubuh kita yaitu hati akan melangsungkan suatu proses metabolisme asam laktat (zat kelelahan yang ada di aliran darah) untuk diubah menjadi tenaga kembali. Proses tersebut berlangsung selama dua jam (antara jam 24 sd 02 pagi). Jika kita mengabaikan hal tersebut maka perobakan asam laktat yang ada dalam aliran darah akan tidak berjalan lancar. Keadaan ini menyebabkan tubuh kita terasa tidak segar dan merasa masih ngantuk di pagi hari.

kadar Hb yang rendah

Hemoglobin dalam tubuh kita berfungsi untuk mendistribusikan oksigen keseluruh tubuh. Jika kadar hemoglobin dalam tubuh kita rendah(anemia)  maka tubuh kita kekurangan asupan oksigen yang di tandai oleh mudah mengantuk, mudah lelah, lemah, lesu, letih, tak bertenaga, konsentrasi terganggu, dan produktifitas kerja menurun. Juga ujung jari terasa kesemutan, mudah sesak nafas, serta kesulitan buang air besar.

gen ngatuk

Mengantuk berat di siang hari ternyata bukan hanya akibat kurang tidur. Pakar di Jepang menemukan variasi gen yang diyakini erat kaitannya dengan narcolepsy yaitu kondisi yang ditandai dengan rasa kantuk berat di siang hari, melemahnya penglihatan, serta menurunnya kinerja otot. Kondisi ini menjangkiti 1 di antara 2.500 orang di Amerika Serikat dan Eropa, namun di Jepang angka kemungkinannya 4 kali lebih besar. Para peneliti menganalisis DNA 222 orang Jepang yang mengalami narcoleptic serta membandingkannya dengan 389 orang lain yang normal. Hasilnya, sebuah variasi gen ditemukan pada setiap orang yang menderita narcolepsy.”45 persen orang dengan narcolepsy memiliki variasi gen ini dibandingkan 30 persen dari yang tidak mengalami kondisi ini,” papar Profesor Katsushi Tokunaga dari Departemen Ilmu Genetika Universitas Tokyo. “Penemuan gen ini membuka jalan untuk menemukan treatment yang tepat bagi penderita,” tambah Tokunaga.`Gen ngantuk` ini ditemukan di antara gen-gen CPT1B dan CHKB, yang keduanya berhubungan dengan kelainan tersebut. CPT1B mengatur enzim yang menyebabkan kantuk, sedangkan CHKB berhubungan di siklus tidur.
Para pakar ini telah mengambil langkah lebih lanjut dengan meneliti varian gen yang sama pada 424 orang Korea, 785 orang Eropa, serta 184 keturunan Afro-Amerika. Hasil yang sama didapat pada orang Korea. Namun, penelitian tidak terbukti bagi orang Eropa dan Afro-Amerika.

“Kami belum menemukan penyebab mengapa gen ini hanya ditemukan pada penderita narcolepsy di Jepang dan Korea. Mungkin penyebabnya adalah seleksi atau kesempatannya,” jelas Tokunaga.

makanan dan minuman

Dikutip dari detikhealth dari Fitsugar, berikut ini adalah makanan yang membuat Anda tidak bisa berhenti menguap.

1. Sarapan manis-manis
Gula dan karbohidrat sederhana mungkin bisa meningkatkan energi, tapi bisa menurunkannya juga dengan cepat. Penurunan gula dalam darah yang terlalu drastis mengakibatkan tubuh lemas dan sering menguap guna mendapatkan oksigen lebih banyak untuk pembakaran energi. Hindari makanan manis seperti donat atau kue-kue manis lainnya karena bisa menurunkan produksi zat kimia dalam otak yang berfungsi membuatnya tetap ‘menyala’.

2. Minuman berenergi
Minuman khusus seperti ini biasanya mangandung gula tinggi dan juga kafein. Beberapa lama setelah minum, gula darah kembali turun dan menyebabkan kehausan dan tenaga kosong. Lebih baik konsumsi air putih jika lain kali kehausan daripada minum minuman penambah energi tapi jadi malas dan mengantuk.

3. Makanan berlemak
Teorinya sederhana, lemak lebih susah dicerna. Organ pencernaan membutuhkan waktu 6 hingga 8 jam untuk mencernanya, oleh karena itu jika tubuh tidak punya persediaan energi yang lain kemungkinan Anda akan merasa lemas dan mengantuk. Makanan berlemak juga diketahui bisa menyebabkan kemampuan mengingat berkurang.

4. Makanan rendah zat besi
Zat besi adalah zat pembangun energi dan kalori. Anda akan merasa lelah jika kekurangan zat tersebut. Konsumsi paha ayam lebih baik dalam meningkatkan zat besi ketimbang bagian dadanya. Daging merah juga tinggi zat besi tapi lebih banyak kolesterol. Labu juga diketahui mengandung zat besi tinggi yang bisa dimakan sebagai camilan di sore hari.

5. Anggur merah
Segelas anggur ketika makan malam mungkin terdengar enak bagi sebagian orang. Tapi asal tahu saja, alkohol bisa menyerap energi dari tubuh karena mengandung melatonin yang tinggi, yaitu hormon yang memproduksi rasa kantuk. Tapi jangan pernah gunakan alkohol sebagai obat tidur, cobalah susu untuk menggantinya.

sumber:http://besteasyseo.blogspot.com

penyakit obstructive sleep apnea (OSA) atau henti napas saat tidur.

OSA Ditandai Ngorok Keras hingga TersedakPernah merasakan kantuk berlebihan pada siang hari, padahal tidur ketika malam? Bila kondisi begitu sering terjadi, biasanya disertai dengan sulit berkonsentrasi, sering lupa, sakit kepala, dan mudah marah, bisa jadi Anda mengalami gangguan tidur yang disebut obstructive sleep apnea (OSA) atau henti napas saat tidur.”Penyakit itu terjadi karena saluran napas tertutup lebih dari sepuluh detik saat tidur,” ungkap dr Wiyono Hadi SpTHT, spesialis telinga, hidung, dan tenggorok RS PHC, Surabaya.

Penderita OSA biasanya tidak menyadari penyakit tersebut. Sebab, gangguan terjadi saat penderita sedang tidur. Jadi, dia tahu tidur seperti biasa. Hanya, dia sering tetap mengantuk saat siang.
Salah satu cara untuk mengetahui gangguan tersebut adalah bertanya kepada orang lain, Anda mendengkur atau tidak saat tidur. Menurut Wiyono, gejala yang mudah diketahui dari penyakit tersebut memang mendengkur saat tidur. Meski, tidak semua orang yang mendengkur mengidap sleep apnea.
“Volume dengkur penderita biasanya tinggi, bahkan sampai terbangun karena tersedak atau batuk-batuk,” tambahnya. Kalau gejala itu ditemukan, dianjurkan periksa ke dokter. Kalau perlu, Anda harus melakukan pemeriksaan polisomnografi di laboratorium tidur.
Polisomnografi, papar Wiyono, menjadi standar dalam mendiagnosis OSA. Alat yang dipasangkan saat tidur itu meliputi perekam aliran udara napas, gerakan napas, EEG, EMG, EOG, EKG, saturasi oksigen, dan posisi badan. Idealnya, polisomnografi dilakukan dalam sebuah laboratorium tidur selama semalam penuh dan dipantau dokter/perawat.
“Hasil yang muncul adalah jumlah henti napas tiap jam dan kadar oksigen dalam darah. Dengan begitu, diketahui pasien mengidap OSA atau tidak,” jelas Wiyono.
Alternatif lain adalah apnea screening yang lebih murah. Namun, pemeriksaan itu kurang lengkap. Sehingga, pada beberapa kasus, pasien akhirnya harus diperiksakan lagi dengan polisomnografi.
Wiyono menambahkan, dua tahun terakhir, kian banyak rumah sakit di Indonesia yang membeli polisomnografi. Sebab, pasien makin tahu tentang OSA dan dampaknya atas aktivitas penderita. “Penderita OSA selalu kurang tidur meski tidur cukup lama. Sebab, proses tidurnya terpotong-potong akibat periode henti napas singkat yang berkali-kali terjadi,” terangnya.
Karena kondisi tersebut, penderita OSA dua kali lebih berisiko mengalami kecelakaan kerja atau lalu lintas. Studi lain bahkan menyatakan OSA sebagai salah satu kriteria untuk menyatakan seseorang tidak mampu bekerja. “Penderita OSA kadang memang tidak berani lagi berkendara karena dianggap punya hobi menabrak,” ucap dia. Banyak juga penderita OSA yang dicap sebagai pemalas akibat kantuk berlebih yang mendera.
Wiyono mengingatkan, OSA bisa berdampak serius atas kesehatan penderita. Misalnya, bisa memicu hipertensi, penyakit jantung, stroke, diabetes, impotensi, dan kematian mendadak. “Sekadar contoh, gangguan napas saat tidur itu bisa membuat kandungan oksigen dalam darah turun. Kondisi tersebut bisa mengakibatkan resistensi insulin. Kalau itu terjadi, penderita rawan diabetes,” bebernya.
Umumnya, lanjut Wiyono, pembuntuan saluran napas pada penderita OSA disebabkan kelainan anatomi. Misalnya, jaringan langit-langit lunak terlalu lunak, lidah besar, dan tulang hidung membuntu, atau amandel dan adenoid membesar. Faktor lain, di antaranya, kelebihan berat badan, konsumsi alkohol, dan merokok.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalami OSA. Umumnya, OSA pada anak-anak disebabkan amandel dan adenoid yang membesar. Kondisi itu membuat pasokan oksigen berkurang pada malam hari. “Dampaknya, anak cenderung mengalami gangguan perilaku, sulit berkonsentrasi, hingga prestasi sekolah menurun,” ungkapnya. (dio/soe).s

http://harianbatampos.com


About these ads